Assalamu’alaikum Mei…..

Long story…short…singkat kata kami sekeluarga pindah ke Jogja. Sebuah kota yang gak sedikitpun kepikiran untuk ditinggali selain buat liburan. Saya bukan tipe yang suka detail bercerita sesuatu tentang diri saya so…maafkan kalo postingan kali ini bukan tentang kepindahan saya ke Jogja tapi tentang seseorang yang memberikan warna dalam hidup saya di Jogja beberapa bulan terakhir.

Namanya Mei. Saya kenal Mei sudah lama sekali sejak tahun 2008, ketika saya bekerja di sebuah provider dan pertama kali kenalan karena kita sama-sama di satu departemen. Kesan pertama agak lupa tapi anaknya ramah, kelihatan ambisius dan wajahnya antagonis sekali. Tidak ada sedikitpun keteduhan di sana, wajah yang selalu tampak terburu-buru melihat sesuatu.

Pertemanan kami tidak begitu akrab tapi saya tau semua kehidupan pribadinya karena Mei ini adalah orang yang sangat aktif di media sosial. Saya kemudian resign dan menikah, gak lama berselang dia juga menikah dengan sebuah pesta pernikahan yang mewah…ciri khas Mei sekali. Hamil pun hanya selisih dua bulan dengan saya. Kemudian belakangan saya ketahui bahwa suaminya mengidap penyakit yang cukup susah untuk disembuhkan.

Kami jarang bertegur sapa, hanya saja saya merasa tidak ketinggalan berita tentang dia karena semua dia share di media sosial. Kehidupannya tampak sangat ‘mewah’ dan tidak ada sedikitpun berita ‘miring’ tentang Mei. Jadi saya berkesimpulan bahwa ini adalah hasil kerja keras dan sifat ambisiusnya dia.

Beberapa saat kemudian, saya dikagetkan dengan berita bahwa suaminya dilarikan ke ICU karena penyakitnya. Broadcast message saya terima malam hari dan paginya saya menerima BM lagi jika suaminya telah meninggal. Entah kenapa saya tiba-tiba nangis sambil memeluk Lilo. Saya langsung kepikiran anak laki-laki semata wayang mereka. Pun saya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan saya melayat pun tidak. Tapi saya bersedih sekali waktu itu, hingga saya sempat menelusuri media sosial Mei dan suaminya, sekedar kepo atau saya bernostalgia, saya pun tidak mengerti walau ujung-ujungnya saya tetap menangis.

Setelah kepergian suaminya, kami in touch lagi via BBM. Dia pinjam uang ke saya untuk keperluan bayar kontrakan. Meskipun banyak pertanyaan berkecamuk, saya tetap meminjami padahal setau saya rumah dia baru saja jadi sesaat setelah suaminya meninggal. Dia hanya bilang, rumahnya dijual karena almarhum suaminya ada tanggungan dan lain-lain. Setelah uang dikembalikan, saya masih sering BBMan, terakhir sebelum kepindahan saya ke Jogja tiba-tiba BBMnya tidak bisa dihubungi.padahal saya berharap ada teman ketika saya pindah ke Jogja, hingga tiba-tiba dia message saya di path dan ternyata BBMnya deactive. Akhirnya kita berhubungan lagi pas saya sedang pindahan ke Jogja.

Singkat cerita, kita membuat janji untuk bertemu. Sebelumnya dia sudah menceritakan sebagian masalahnya di BBM. Antara kaget dan percaya, hingga saya tidak sabar untuk menemuinya. Kemudian saya berkunjung ke rumahnya dan betapa kagetnya saya melihat sosok Mei yang sekarang. Semua kesan pertama dulu bertemu seakan-akan lenyap. Saya bagaikan melihat sosok berbeda dengan Mei yang selama ini saya kenal, berhijab dengan tatapan yang teduh dan mimik wajah yang begitu berserah. Jujur, saya tidak bosan-bosannya memandangi wajahnya. Kemudian cerita itu mengalir dengan runut, jelas, tenang dan pasrah.

Adalah Mei yang sekarang ini telah mengalami banyak peristiwa yang bagi saya sudah di luar akal sehat saya. Meskipun Mei pasrah karena ini adalah jalan hidup yang sudah digariskan dan buah dari segala perbuatan tercelanya di masa lalu. Setelah diberikan cobaan suaminya meninggal, Mei dihadapkan pada PHK dari kantornya karena ada kelalain fatal dalam pekerjaannya. Cobaan selanjutnya adalah dia terlilit hutang yang bagi Mei pun tidak masuk akal jumlahnya karena dia berhutang pada rentenir hingga dilaporkan ke polisi. Dalam kondisi janda, tidak bekerja dan jadi tersangka sebuah kasus penipuan, Mei menceritakan semua itu dengan sangat tenang sementara saya yang mendengarkan yang menangis. Mei tidak pernah meratapi nasibnya, dia begitu tegar menghadapinya dan dia selalu bilang ‘saya cuma punya Allah yang bisa menolong saya’. Rasa-rasanya ini bukan Mei yang saya kenal tapi saya lebih suka Mei yang sekarang.

Karena status Mei sudah tersangka, kemudian dia pun harus menjalani penyidikan. Dia dibantu pengacara secara gratis karena Mei selalu mengatakan keadaan dia yang sebenarnya bahwa dia memang tidak punya uang. Penyidikan pun dilakukan selama beberapa hari dan selama penyidikan berlangsung, Mei selalu datang sendiri tanpa didampingi keluarga, bahkan dia menolak bantuan salah seorang keluarganya untuk menjamin kebebasan bersyaratnya. Karena bagi Mei, semakin cepat dia menjalani proses ini yang bagi dia merupakan konsekuensi atas perbuatannya di masa lalu, semakin cepat pula dia bisa menata hidupnya kembali. Keajaiban pun terjadi atas doa-doa dan dzikir yang Mei panjatkan setiap saat, Mei dinyatakan wajib lapor dan tidak ditahan dengan mempertimbangkan alasan kemanusiaan bahwa anak Mei masih di bawah umur. Dia menelepon saya waktu itu dan saya ingat benar saat Mei menelepon, kondisi hujan deras. Mei histeris sambil bertasbih dan menangis menceritakan proses kebebasannya, saya pun ikut menangis haru. Mei membuktikan sebuah kekuatan doa yang membuat saya bergetar.

Semakin hari, saya semakin tenang berada di dekat Mei. Dengan segudang permasalahan yang seakan tidak ada akhirnya, Mei membimbing saya dan telaten mendengar keluh kesah saya. Masalah yang saya hadapi tidak seberapa dibandingkan dengan masalah Mei tapi Mei menunjukkan ketegaran yang luar biasa yang membuat saya malu. Kadang tanpa Mei sadari ada kesedihan yang terpancar jelas dimatanya. Kesedihan yang dia tahan dan berusaha dia sembunyikan tapi mata Mei kadang tidak bisa bohong. Kalau sudah seperti ini, biasanya Mei sibuk dengan handphonenya dan sangat menunggu waktu sholat, mungkin dia ingin mengadu kepada-Nya.

Begitula Mei, sosok yang telah hancur luar dalam namun perlahan tapi pasti dia mampu menata kembali kepingan kehancuran tersebut bahkan dengan bentuk yang lebih baik dari sebelumnya. Saya bisa katakan, dia mendaur ulang dirinya hingga nyaris tak tersisa Mei yang dulu pertama kali saya kenal, hanya saja kesedihan itu tetap ada dan saya tau justru itulah yang menguatkan Mei untuk bertahan dan berserah diri kepada Sang Khalik. Dan yang tak pernah Mei lelah buktikan ke saya adalah dahsyatnya kekuatan doa.

Terimakasih Mei….

A Damned Right Feeling!

He bbm-ed me after a not-too-short conversation ‘You always got a damned right feeling’. He is a friend of mine. Not the very best but still the best to me so far. We’re in friend (my language?? weird, isn’t it?) when we’re still in college. He was my boyfriend’s best friend that time. A loving and caring person but sometimes act stupidly or in exact way, ridiculously. Stubborn someday, but very very fragile at the same time. A very strange combination of a living creature called human.

Time was passing by. We’re still at the same kind of conversation, mocking each other, hang out somewhere together even though I’m married and so he hasn’t. FYI, I am not married with his best friend. He loved having conversation with me, talking about anything, the serious one until the ‘gak penting2’ topics. He always listens that’s why I was keeping my mouth open while I was with him. He’s actually a clever boy (uhm..man) but sometimes he acted like he was Tukul who’s bullied by the audience or the guests of his show. Not to clever, (maybe it’s the best description of him) because sometimes I had to repeat my explanation of our single topic, and the light one.

We sometimes paused our friendship. It happened mostly when he had a girlfriend. The longest pause was when he got married to his very last girlfriend (hope I make myself correct about this). I understood how he wanted this, besides, I was married already. One thing that made me disappointed was he lied to me about the condition, the girl….ahh about anything I guess. Until one day, I got news the he’s going to get married but he didn’t hand the invitation to me. I felt like I was betrayed….by him! But it’s okay, he’s not event a relative to me, said my inner subconscious to myself. But still, I was thinking that there’s must be something wrong with him and his newly marriage. Until he held a ‘syukuran’ at his house and he invited me. I came with so many bad feelings about him. When I arrived, the ceremony was running so that I couldn’t give him a congratulation. After the ceremony’s over, I and my friends looked at him from a distance, hoping that he would reach us to greet but he didn’t. I and my friend decided to come home long before the ceremony was end. Me, the one who’s very heartbreaking that time, decided to get some food before home with hubs because I was so mad and so hungry. You know, I have no time to get any meal from his ceremony due to my decision to ‘walk out’!

Since the day, I felt that our friendship has vanished. No conversation for a long long time. But still, I was trying to stalk him on his socmed. Until I find that he was so released on one of his socmed. It was just not him for the last time I knew. Still kept my eyes on his socmed but I didn’t take any action to greet him. But friend is always friend, true friend especially. I was so mad at him for what he has done to our friendship but I didn’t hate him AT ALL!. I tried to reach him by asking him for a hand of my business in his city where he’s living now. He responded with no hesitation at all. It was a good move I guessed. So we’re keep going that time. But I didn’t understand why I have to confirm what’s inside my head to him, about his marriage. I thought about how to start, a day, two day, a weeks, a month long. Then, I had the brave to ask. It was nearly 17.30 at the evening when I was waiting for my ‘sate ayam’ to be processed. I called him, he said he was at the bathroom but I just didn’t care. I asked directly about his marriage, well, it’s exactly a conclusion. He listened to me with shocked I guessed, well how do I knew, coz we were on the phone. He didn’t say ‘NO’ but didn’t say ‘YES’ either. He just said to me ‘Kok kamu tau sih ndu?’. Well, that’s enough answer for me actually.

I sought a time to meet him. We actually met and he told me the story. He tried not to look weak in front of me but I knew deep insight he’s so hurt that I couldn’t bear myself how hurt he was. On our second meeting, he cried! Yes, it was the first time I felt that he’s very fragile. You just you, dear friend! I just knew you more than you knew yourself, I said to him. But, everybody’s the same, rite? They sometimes don’t know themselves as well as the other does.

He will repeat he first sentences I wrote on this post every time I had the damned right guess about him. But now, he is almost come back to pre-married friend I know although sometimes he suddenly said ‘ Aku jadi galau, ndu’. Oh boy, we need sometimes to cure the pain not as instant as INSTO (menghilangkan mata merah kurang dari 5 menit). I don’t know how long the process will last but I am sure he can manage his problem and I am his big supporter. YOU JUST CAN DO THAT, MBUL!

-the end-

Aku Dibully!

Twitter itu memang tempat bersemayamnya segala macam ide yang bisa dituangkan di blog deh kayanya. Baru-baru ini heboh banget soal bullying. Melibatkan anak sekolah lanjutan, biasanya sih pas MOS  (Masa Orientasi Siswa), lebih dikenal dengan nama ospek tapi kalo saya sih lebih menyebutnya sebagai ajang balas dendam. Kenapa begitu? Ya sudah menjadi tradisi kan? Semua orang juga tau, dosa yang gak selesai-selesai.

Mengenai bully mem-bully ini, saya termasuk jadi langganan tetap sejak SD – Perguruan Tinggi. Parah ya? Saya sering bertanya-tanya juga kenapa nasib saya sial banget. Padahal saya ini juga gak terlalu mencolok, biasa-biasa aja untuk urusan akademis apalagi tampang hanya saja saya ini agak cerewet dan suka bercanda yang mungkin bagi mereka kelewatan kali ya. Apa salah dan dosaku?

1. Dibully waktu SD

Saya sekolah di SD di kampung saya. Jadi gak heran, semua temen saya kalo gak tetangga ya sodara. Saya di bully waktu kelas 5 SD awalnya. Dan yang membully saya adalah laki-laki yang dikemudian hari (waktu saya lulus SMA), jatuh cinta mati-matian sama saya. Pembully-an yang dilakukan ke saya sih gak ke fisik ya, tapi lebih ke psikis. Jadi dia hasut semua teman kelas saya untuk memusuhi saya dan kalo tidak menurut diancam akan dipukuli hanya karena saya pernah ada salah ngomong sedikit ke dia. Padahal konteksnya waktu itu bercanda. Saya dimusuhi temen sekelas hampir sebulanan, terkucil dan gak ada temen. Saya jatuh sakit selama 3 hari dan terkena eksim parah.

Gak berhenti sampai di situ, kelas 6 saya mengalami pembully-an lagi, tapi kali ini oleh temen cewek saya. Pangkal permasalahannya adalah cowok yang dia taksir malah mengirimi surat cinta ke saya dan ketauan sama dia. Modusnya sama, dia menghasut semua teman saya di kelas untuk memusuhi saya disertai dengan ancaman. Efeknya, saya kembali jatuh sakit dan kali ini agak parah selama seminggu dan pembully saya nengok saya lho. Setelah masuk, pembully an masih berlanjut cuma keliatannya massa sudah mulai berpihak ke saya dan tidak takut lagi sama temen saya.

Nah yang mengherankan, saya satu kelas dengan sodara yang lumayan deket, dan dia ikut-ikutan membully saya lho. Saya masih ingat perasaan saya waktu itu, hancur, kesepian, dan malas sekali ke sekolah. Bahkan jalan-jalan di sekitar kampung aja saya takut ketemu sama temen saya itu. Saya tidak berani bercerita yang ujung-ujungnya membuat saya jatuh sakit. Saya takut cerita sama ibu saya karena dua hal, takut ibu saya emosi dan melabrak orang tua temen saya, dan takut saya dimarahi.

And the story goes ya, si cowo pembully ini menjadi anak yang sangat liar dan nakal. Sekolah sekenanya, gonta ganti cewe, mabok, drugs dan dia berasal dari keluarga broken home. Hingga waktu lulus SMA, tiba-tiba si anak ini menyatakan cinta ke saya. Kita akrab sebentar tapi setelah itu saya harus melanjutkan kuliah jadi komunikasi agak terputus. Sementara dia? Jadi penjual ikan di kampung saya, tidak melanjutkan kuliah dan masih dengan kehidupan liarnya. Kadang merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai sopir metromini. Sekarang sudah menikah dan punya anak, masih bekerja sebagai penjual ikan.

Pembully saya yang cewe, masih satu sekolah sama saya waktu SMP. Tapi kita tidak pernah satu kelas jadi saya merasa aman meskipun aslinya saya takut juga kalo kejadian waktu SD terulang lagi. Tapi SMA kita pisah, dan dia kedapatan hamil dengan seorang preman kampung dekat sekolahnya. Drop out kemudian menikah, tak lama setelah anak mereka lahir, mereka bercerai. Saat ini, temen saya ini sudah menikah lagi dan masih tinggal di kampung saya.

2. Dibully waktu SMA

Waktu SMP sepertinya saya tidak merasakan di bully karena saya aktif banget di organisani OSIS, Pramuka dan ekstrakurikuler. Kebanyakan bully-ers kan anak-anak gaul yang jarang masuk di organisasi apalagi ekskul. Saya di bully waktu SMA kelas 1 oleh temen laki-laki saya. Masalahnya sepele juga, awalnya bercanda tiba-tiba jadi serius. Sama sih kaya waktu SD, dia ancam semua temen sekelas kalo ga mau memusuhi saya. Tapi usia SMA sepertinya kita sudah bisa berpikir mana yang salah, mana yang benar, mana yang penting dan mana yang gak penting. Jadi di depan temen saya ini, temen-temen saya yang lain pura-pura memusuhi saya tapi setelah temen saya yang ngebully saya gak ada, mereka jadi baik semua sama saya. Ini gak berlangsung lama, tapi sempat juga memunculkan perasaan takut sekolah dan ingin pindah sekolah sejauh mungkin. Setelah itu, malah saya jadi akrab sama dia sampe sekarang. Iya, sampe kita sama-sama punya anak. Mungkin dia satu-satunya temen SMA saya yang masih rajin telpon saya hingga dua minggu yang lalu.

3. Dibully waktu kuliah

Mungkin ini pembully-an yang menurut saya sangat menyakitkan hingga dalam waktu yang sangat lama. Jadi saya punya geng waktu kuliah, Geng Jeng Jeng. Terdiri dari 4 orang cewek-cewek pokoknya. Kita apa-apa bareng, tuker baju, nginep sama-sama, menggelandang sama-sama pokoknya satu hati sama rasa kedekatan kita waktu itu. Salah satu Jeng di geng saya ini orangnya agak ‘berkuasa’ kalo saya bilang. Sering kita gak ngerti apa mau dia, dan kalo kita ga ngerti biasanya kita akan diomongin dibelakang. Nah pembully-an saya berlangsung pada saat pendakian Gunung Sumbing. Di post ke – dua kalo gak salah, tiba-tiba dia mendiamkan saya, gak mau ngomong sama saya dan lebih parah lagi dia dan jeng jeng yang lain mengucilkan saya. Bayangkan, di gunung yang sepi seperti itu saya dibiarkan sendiri, gak ada teman. Paling-paling ada senior saya yang berbaik hati menemani saya. Bahkan sampai saat ini, saya gak tau apa salah saya waktu itu.

Sejak lulus kuliah plus beberapa bulan kebersamaan, saya kehilangan kontak dia sampai sekarang. Semua anggota geng sudah menikah, kecuali dia menurut info yang saya dengar. Jujur saya masih agak sakit hati sampai saat ini kalo ingat perlakuan temen cewe saya malam itu di lereng Gunung Sumbing.

Jadi bisa dibilang saya ini mengalami psychological bullying sejak saya masih di bawah umur. Efeknya? Yang saya rasakan, saya jadi pemarah, bawaannya curiga, emosi yang meledak-ledak bahkan saya ingin selalu ‘mengamuk’ sama orang yang bikin salah ke saya atau yang mengecewakan saya. Saya gak mau kalah, karena saya merasa dari dulu saya selalu jadi obyek penderita. Disamping itu, saya adalah pribadi yang sangat tertutup, hingga saat ini pun hal ini masih berlanjut. Saya kurang bisa bercerita mengenai apa yang terjadi dengan diri saya kepada orang lain. Tapi belakangan saya mulai mencoba untuk curhat dan sepertinya memang lebih sedikit membuat tenang dan beban sedikit berkurang.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kok saya selalu jadi obyek bullying? Saya adalah pribadi yang memang tidak terlalu terbentuk dengan bagus karena saya adalah keluarga broken home yang hanya dibesarkan oleh ibu dan saya mengalami hal traumatis  berkaitan dengan ini. Lalu apa hubungannya? Banyak. Saya seperti kurang perhatian karena ibu saya sibuk bekerja untuk menghidupi saya dan sejak bercerai ibu saya menjadi sangat sensitif. Kalo marah sama saya dia sering mencubit dan menampar saya.  Mungkin secara tidak sadar saya sakit hati dengan perlakuan ibu saya ini kemudian saya menjadi over acting supaya mendapat perhatian lebih di lingkungan saya. Jadi sikap saya yang seperti ini mungkin bagi sebagian orang yang tidak suka adalah akar permasalahan yang fatal yang bisa memicu mereka untuk berbuat tidak menyenangkan kepada saya.  Jadi penting sekali memberikan sebuah kehidupan yang wajar kepada anak supaya kepribadiannya bisa terbentuk dengan bagus dan meminimalisir kasus-kasus bullying yang akhir-akhir sedang marak di usia sekolah.

Kenapa banyak kata-kata ‘mungkin’ dalam analisa saya? Karena terlalu susah juga lho mengoreksi apa yang kita alami sendiri kemudian menjabarkan untuk orang lain. Anyway, kalo seperti ini, saya butuh psikiater gak sih? *seriusnanya*

Saya berbicara sebagai pihak yang dibully, tapi paling tidak ketika sebuah keluarga itu utuh dan harmonis serta berjalan wajar, saya yakin tidak akan menciptakan anak yang bersifat pembully juga. So parents, gak gampang ya ternyata? Tapi bisa kita usahakan secara maksimal daripada nanti menyesal di kemudian hari.

-the end-

Terimakasih Tuhan

Di kehidupan sehari-hari saya, jarang sekali saya terbuka mengenai masalah pribadi saya kepada orang lain. Misalnya saya punya 10 masalah, kemungkinan hanya 2 atau tiga yang akan saya share ke orang dan biasanya saya bisa sharing apa adanya terhadap seseorang yang tiba-tiba saya menemukan dia asyik diajak ngobrol. Jadi tidak melulu ke sahabat dekat, ke suami ataupun keluarga. Orang mungkin akan menilai saya terbuka apabila kenal dan tau saya, terlebih saya ini cerewet dan suka ngomong, tapi saya yakin kok, saya ini sangat tertutup terhadap masalah saya pribadi.

Saya hanya jujur ketika saya berdoa. Saya juga jarang sekali mengeluh, baik di kehidupan sehari-hari maupun di dalam doa saya. Saya lebih senang untuk menyelesaikan masalah saya dengan berpikir keras dan diam tapi saya tetap ‘minta’ kepada Tuhan. Tapi apa yang saya lakukan itu, kadang juga ‘merusak’ diri saya. Selain jadi gampang marah alias sensitif, saya pasti kena maag. Juga penilaian orang terhadap saya, mereka pikir saya ini ‘kuat’ dan tahan banting. Bahkan jarang ada yang percaya ketika saya benar-benar kesakitan atau sedih, termasuk suami saya.

Seperti halnya akhir-akhir ini, saya sedang dalam kondisi ‘drop’ banget, dirundung persoalan yang bertubi-tubi. Saya mencoba cerita ke suami saya, hasilnya malah kita jadi sering berantem. Saya jadi sensitif sekali, baik di rumah maupun di kantor.  Tapi ada yang sedikit aneh, kesensitivitasan saya bukan lagi marah-marah tapi saya diam alias ngambek. Hingga saya percaya pasti ada yang salah sama saya. Saya mencoba berbenah diri, koreksi satu-satu mulai dari kantor hingga di rumah. Yang saya dapati banyak sekali ‘kesalahan’ saya selama ini. Saya terlalu mencampuri urusan orang, hingga urusan saya sendiri terbengkalai, saya terlalu superior terhadap suami hingga dia merasa tidak nyaman bahkan saya seperti tidak serius ketika beribadah. Sholat selalu mepet-mepet waktu habis, wudhu yang salah dan tidak pernah berdzikir. Yang terakhir saya kurang bersedekah, meskipun saya selalu menghitungnya tapi ternyata itu belum sesuai dengan hitungan dan rumus Tuhan.

Tamparan yang paling menyiksa saya adalah ketika suami saya tiba-tiba tidak pernah berpamitan lagi ketika berangkat kantor dan mobil saya meskipun sedang parkir ditrabrak hingga penyok dan yang menabrak pun lari. Saya sedih sekali, tapi saya tidak tau harus menumpahkan kegalauan hati ini dengan cara apa. Saya hanya berpikir, saya harus menangis. Menangis yang lama dan tidak ada seorangpun yang tau. Saya pun menangis dalam perjalanan pulang, sambil nyetir dan tentu saja tidak maksimal karena air mata menghalangi pandangan saya. Tapi setidaknya beban itu sedikit sudah tumpah dan saya agak sedikit lega. Sampai rumah saya sholat Maghrib dan kemudian menyusui Lilo. Ada kedamaian di mata Lilo yang seperti menumpahkan lagi sebagian beban saya. Saya tunggu suami pulang, saya ingin memeluk dia. Akhirnya dia pulang dan saya gagal memelukanya karena saya gengsi kemudian saya bercerita tentang teman saya yang sedang ada masalah rumah tangga, kemudian saya langsung bilang ‘saya gak mau seperti dia ya’. Dia menggoda saya dan saya merasa penuh sekali saat itu.

Setelah itu, saya browsing pake ipad si Lilo, saya cari bacaan dzikir sebanyak-banyaknya dan yang paling utama. Saya praktekkan langsung setelah sholat isya’. Hati tenang sekali dan saya merasa punya semangat. Ternyata kunci berdzikir itu salah satunya adalah pelan-pelan. Rasakan bacaannya, bagi saya seperti keluar kemudian dia masuk lagi di aliran darah saya. Agak berlebihan mungkin ya, tapi itulah yang saya rasakan. Tenang dan meresap.

Efek dari sholat dan dzikir yang saya jalani dengan serius ini (untuk benar atau tidaknya hanya Tuhan yang berhak menilai) saya sedikit bisa meredam emosi dan bersabar. Setiap ada masalah, saya minta pertolongan-Nya di dalam doa. Selebihnya saya bersabar meskipun gak jarang saya jadi sedikit imsonia memikirkan masalah saya tapi setidaknya saya tidak emosian lagi. Benar adanya, Dia memberi yang kamu butuhkan, bukan yang kamu mau’. Saya merasa, ketika doa kita dikabulkan oleh-Nya ada yang sesuai harapan saya bahkan berlebihan, tapi ada juga yang tidak sesuai mau kita tapi justru lebih pas untuk saya. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan? Fa-biayyi alaa’i Rabbikumaa tukadzdzi baan (55 : 13).

Postingannya agak serius ya tapi saya hanya manusia biasa, up and down setiap saat. Saya pernah menulis di sini dan kalo dipikir-pikir memang ya, saya itu harus di ‘tampar’ dan dikasih masalah biar sadar. Semoga saya bisa konsisten me-manage hidup dan hati saya, agar postingan-postingan serupa tidak ada lagi. Amiin.

-the end-

 

Panggil aku Andree

Saya jadi agak kecanduan cerita soal anak-anak kos di Kos Anggrek dulu. Saya bercerita karena saya terkenang sekali dengan mereka. Mengingat apa yang sudah terjadi itu bikin senyum-senyum sendiri dan bikin bahagia banget. Jadi kalo semisal ada yang baca dan mengenal tokohnya pun, saya gak ada maksud untuk mengumbar sesuatu. Hanya sekedar mengingat cerita yang benar-benar membuat saya merasa penuh.

Setelah Fanny dan Mbak Lia, ada satu temen kos lagi yang ceritanya luar biasa absurd. Sebut saja namanya Andree, nama aslinya Fatur. Jangan ditanya kenapa namanya jauh banget beloknya ya, baca saja ceritanya nanti pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Tersebutlah, dia anak kos yang bersebelahan kamar dengan saya. Kalo Mbak Lia di sebelah kanan kamar saya, si Andree ini di sebelah kiri kamar saya. Seumuran saya anaknya, tipikal anak yang ‘gaul’ gitu tapi nanggung. Kenapa saya bilang nanggung? Ya gimana enggak, maunya parlente tapi memble, pengen sok tajir tapi pas-pas an. Ujung-ujungnya jadi omong besar. Itu adalah awal-awal kesan saya sama Andree waktu berkenalan sebagai sesama penghuni kos. Jujur ya, saya males banget kenal lebih jauh sama si Andree karena dia sangat ceriwis dan omong besar. Jadi end up saya agak menghindari dia. Seperlunya aja bahkan saya cenderung agak ketus dan gak ada manis-manisnya kalo bicara sama dia. Akhirnya datanglah Mbak Lia. Sebelum saya akrab sama Mbak Lia, ternyata si Andree ini sudah akrab duluan sama Mbak Lia, bahkan dia manggil Mbak Lia dengan sebutan ‘Mak’e’. Mau ga mau, saya jadi sering berinteraksi sama Andree karena kita punya temen yang sama yaitu Mbak Lia dan letak kamar kita sejajar. Si Andree ini kaya ‘anak’ gitu kali ya, disayang banget lah pokoknya kalo sama Mbak Lia. Sama seperti saya, dimasakin juga bahkan hampir tiap hari Mbak Lia masak untuk makan berdua sama si Andree. Mereka juga sering kali jalan berdua untuk sekedar makan ato jalan-jalan gak jelas di pusat kota.

Setelah mulai agak akrab, si Andree ini mulai ‘apa adanya’. Dia sudah gak sok lagi, bahkan agak menyenangkan anaknya menurut saya dengan cerita-cerita ke ‘sok’ an dia waktu flirting-flirting sama cewe. Oh ya, si Andree ini punya kecenderungan yang agak esktrim mengenai cewek. Asal mau pokoknya, dia gak peduli umur, wajah, body. Pokoknya asal mau ‘ONE NIGHT STAND’. Tak terhitung lagi berapa banyak dia gonta ganti cewek yang kemudian diajak ‘tidur’ sama dia. Paling lama bertahan mungkin seminggu, dan itupun berturut-turut, yang artinya memang dia bener-bener ‘habisin’. Semua anak kos tau kelakuan Andree yang ini dan semua memanfaatkan kelakuan Andree ini untuk keisengan mereka (termasuk saya), yaitu, NGINTIP!

Jadi ada temen kos yang lain yang memang anaknya usil banget, sampe sekarang pun saya masih berhubungan sama dia. Waktu Andree gak ada di kos, dia sempet-sempetnya bikin lobang ‘maksiat’ buat ngintip. Saya pernah protes karena terlalu tinggi buat saya, dan besoknya dia bikin lobang yang baru yang pas sama saya. Sumpah….saya gak bisa berhenti tertawa waktu itu. Gila semua ini anak kos! Dan temen-temen ONS Andree itu kebanyakan di bawa pulang ke kos waktu sore menuju malam. Jadi bukan pemandangan yang aneh lagi, ketika pulang kantor, saya melihat beberapa anak kos saling tumpang tindih di luar kamar Andree menunggu giliran ngintip. Jujur saya pernah ngintip Andree tapi cuma sekali sih, menghargai yang sudah susah payah bikinin saya lobang yang pas sama saya hehehehe tapi lama-lama saya malu sendiri dan mending masuk kamar sambil nunggu anak-anak selese ‘tugas’ mereka kemudian bergosip di kamar saya. Diceritain kayanya lebih tidak merasa terlalu berdosa daripada ngintip langsung. Hehehe…

Tapi gara-gara kelakuan Andree itu, dia pernah juga kena batunya sampe urusan ke polisi. Dan saya pula yang jadi saksinya karena saya satu-satu orang yang ada di kos dan kamar saya bersebelahan sama si Andree. Jadi waktu itu dia bawa temen wanita ke kos. Saya sempet liat sih waktu itu, kira-kira adalah 2 ato 3 harian gitu sama cewek ini. Hari terakhir sama cewe ini (kalo gak salah hari Minggu karena saya di kos seharian), dia pamit pulang. Tapi sebelum pulang, dia minta dibelikan sesuatu sama Andree karena pas saya ke kamar mandi, saya lihat anak itu lagi di kamar Andree sendirian dan main-mainin HP nya si Andree. Balik dari kamar mandi, saya menemukan Andree sedang panik. Dia bilang kalo cewe tadi maling HPnya 2 buah (Andree punya 4 buah handphone). Saya kaget karena gak ada 10 menit saya tinggal ke kamar mandi, tau-tau cewe itu sudah pergi dan bawa HP nya si Andree. Jelas dong si Andree kalang kabut. HP nya waktu itu 7610 dan masih beberapa bulan, jadi masih baru banget, satunya lagi kayanya tipe di bawahnya dan masih lumayan baru juga. Dia lari ngejar cewe itu sampe ke ujung gang tapi rupanya sudah tidak terkejar. Andree keliatan panik banget dan telpon temen-temennya untuk minta bantuan. Tau-tau besokannya, cewe itu sudah ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Waktu saya pulang kerja, dia sudah nunggu saya di depan kamar dengan muka memelas. Minta saya bersaksi di BAP dia di kepolisian. Jadi malam itu saya ke kantor polisi, bikin BAP sama Andree, saya sih bilang apa yang saya liat aja. Akhirnya HP Andree kembali karena belum sempet di jual dan gak tau juga gimana kelanjutan nasib cewe itu yang jelas waktu saya di kantor polisi, dia juga ada di sana tapi di balik jeruji besi. Saya juga ogah nanyain dan gak pengen ngerti juga karena terus terang agak kesel juga disangkut pautin urusan si Andree ini. Setidaknya si Andree mendapatkan hikmah sesaar meski setelah itupun kegilaannya terhadap ONS tetep berlanjut.

Tapi selain cerita kesialan Andree yang itu, ada juga cerita menyenangkan waktu Andree di’piara’ sama tante-tante. Hubungan Andree sama si tante ini bisa dibilang agak ajaib dan spektakuler karena mereka hanya berhubungan di telepon dan sama sekali tidak pernah bertemu muka. Yang lebih luar biasa lagi, si ‘tante’ ini ngucurin materi ke Andree udah kaya pancuran air abadi aja. Banyak dan gak tanggung-tanggung. Awal mula saya tau soal si tante ini, saya agak curiga karena hampir tiap hari si Andree itu ngasih saya makanan dan masuk kategori makanan mewah. Saya tanya dia, apa dia udah jadi gigolo sekarang, dia bilang ‘yoiiiiihhhhh’.  Dia kemudian cerita, waktu chatting di warnet, dia ketemu temen chat, trus tuker nomor telpon. Selanjutnya intens telepon-teleponan hingga saling bicara cinta (bisa-bisanya si Andree) hingga mereka jadian dan lanjut ke ‘phone sex’. Dia bilang, nanti pas aku lagi phone sex sama dia dengerin ya. Saya tolak mentah-mentah karena saya ngerasa risih aja. Masak saya harus mendengarkan yang begituan. Saya bilang, ‘Gila kamu, ndree!’ Dia tetep usaha ngerayu saya buat ngedengerin phone sex dia sama si tante itu,  dia bilang, dengerin aja dianya, ‘ nanti aku loud speaker, aku gak bakalan ‘jorok’ kok cuma modal ngomong aja. Akhirnya saya bilang ke Mbak Lia, saya suruh nemenin dan ternyata Mbak Lia sangat antusias. Dan ternyata bener lho, si Andree duduk sama kita, ngomong sok mesra dan mengandung hawa nafsu gitu trus si tante menanggapinya udah kaya bener-bener dia lagi ‘making love’ dengan Andree dalam kehidupan nyata dan bukan hanya di telepon. Sudah gila memang si Andree. It was fun a bit, tapi risih juga sih. Mbak Lia mendengarkan sampai selesai, dan saya kabur karena sudah gak tahan risihnya.

Kontribusi si tante terhadap Andree ini mulai dari ransum, komputer, handphone sampai uang jajan. Hidup Andree luar biasa berlimpah harta waktu itu. Tinggal bilang apa maunya, gak ada 2 jam sopir si tante datang bawa pesenan si Andree. Modalnya cuma ‘jatah’ lewat telpon doang. Anak-anak kos yang lain pada salut semua dan tentunya manfaatin si Andree untuk ngejajanin mereka. Tapi lama-lama si Andree ini penasaran sama si tante. Diajak ketemu gak pernah mau padahal Andree dengan liciknya sudah bilang, aku menerima kamu apa adanya sayang karena aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu’ (template rayuan maut si Andree terhadap semua cewe kayanya). Jadi diaturlah siasat yang tentu saja melibatkan saya dengan Mbak Lia sebagia penikmat ransum yang dikirim si tante juga. Waktu itu Andree minta celana panjang, yang sudah di pilih di suatu toko, kemudian dia bilang si tante. Si tante bilang oke karena kebetulan dia masih ada di sekitar mall tempat toko tersebut. Waktu celana di anter supir si tante, Andree pura-pura gak ada di kos. Saya yang suruh nerima, padahal Andree di kamar saya. Gak berapa lama kemudian, dia telpon si tante dan bilang kalo celananya salah. Dengan manjanya si Andree bilang kalo harus dituker sekarang karena mau buat ke kampus nanti malam. Setengah jam kemudian si supir datang mengambil celana. Kemudian secepat kilat Andree lari ke toko tempat celana itu dibeli, akhirnya disitu dia bisa liat wujud asli si tante. Katanya ‘mbak-mbak gitu, gak cantik tapi bling-bling’. Dan ada kekecewaan di wajah serta suara Andree waktu bilang begitu. Tampaknya sosok si tante ini tidak sesuai harapannya.

Setelah kejadian itu, si tante tetep ga tau juga kalo si Andree udah tau wujud aslinya. Tapi mungkin karena drop, Andree jadi agak berubah, dan si tante pun ngerasa. Lambat laun hubungan mereka memburuk bahkan si tante memutuskan Andree. Bisa ditebak, Andree jatuh miskin karena semua supply di embargo. Akhirnya satu per satu barang-barang pemberian tante itu dijual sama Andree untuk menyambung hidup. Kemudian si Andree balik lagi ke kelakuannya yang lama yang hobinya ONS. Bahkan lebih parah, mulai bergaul dengan para lesbi dan gay dan menjadikan kamar kos Andree sebagai basecamp. Lama-lama kelakuan teman-teman Andree ini sangat menganggu privasi saya, karena mereka berisik dan Andree pun lebih liar dari yang dulu. Saya agak menjauh dan sering banget berantem sama dia bahkan saya terang-terangan pernah ngusir temen-temen Andree di depan kamar saya karena kelakuan mereka sudah sangat tidak bisa ditolerir. Bisa dipastikan hubungan saya dengan Andree memburuk. Saya sudah tidak mau ngajak ngomong lagi, tapi Mbak Lia masih mau sih jadi kadang saya suka denger cerita tentang si Andree dari Mbak Lia.

Terakhir ketemu si Andree sebelum saya kecelakaan. Setelah itu, dia (juga penghuni kos yang lain) pindah karena kos mau dirobohkan dan dibangun hotel. Tapi saya masih sering papasan sama dia di jalan dengan mobilnya yang didandani a la mobil Inspector Gadget. Soal mobil ini sebenarnya ada cerita tersendiri, tapi sayang saya ga punya fotonya jadi gak bisa membuktikan keanehannya.

Sampai saat ini saya masih sering melihat Andree berkeliaran di mall, karena memang pergaulan dia sangat luas. Kesan yang saya dapat sih, Andree masih setia dengan omong besarnya. Dia juga yang sampai saat ini masih berhubungan sama Mbak Lia. Andree adalah teman yang saya ceritakan di ceritakan di sini . Yang ngasih tau ke saya keberadaan Mbak Lia. Ternyata persahabatan mereka masih terjalin hingga saat ini. SALUT!

-the end-

Masakan Mbak Lia — Bagian Dua

Lanjutan dari sini ya….

Jujur saya itu kagum sama Mbak Lia. Gak bisa dibilang sedikit pula kagumnya. Gimana tidak, dengan pekerjaan seperti itu, yang dilakukan malam di atas jam 10 hingga pagi dini hari kadang, Mbak Lia masih bisa bangun pagi untuk sekedar mencuci ato ngobrol ringan sambil sarapan. Meskipun setelah itu dia akan tidur lagi. Hidupnya juga sangat teratur dan rapi. Buku-buku dia hampir 2 rak ukuran 1.5 x 1 m yang di gantung di atas tempat tidurnya. Belum lagi baju dan barang – barang lain, semua tertata rapi dan bersih meskipun ukuran kamar kos kami kecil. Dia juga sangat menjaga kesehatan dan kebersihan organ paling vitalnya. Dia rajin papsmear dan selalu menggunakan alat kontrasepsi yang dia bawa sendiri karena dia lebih yakin. Selain itu dia juga bercerita, ketika melayani tamu, hal yang wajib dilakukan oleh tamunya adalah mandi. Geli juga sih waktu diceritain tapi ya apa boleh buat, mungkin sudah biasa bagi dia.

Saya kadang denial. Menghadapi kenyataan kalo Mbak Lia bekerja semacam itu dan saya juga tahu tempat-tempat dimana dia biasa cari tamu, saya sebagai lajang single yang available dan suka gaul (halah…:d) saya sangat menghindari tempat – tempat yang kemungkinan akan bertemu dengan Mbak Lia. Saya gak rela, seperti melihat sendiri kakak saya. Suatu saat saya pernah ke salah satu club di kota saya untuk nonton final Liga Champion (yang kebetulan dapat undangan gratis), tiba-tiba saya lihat dia juga disitu, menanti bule menghampiri. Karena club itu memang terkenal banyak bule. Sontak saya langsung drop dan minta pulang. Ya itu tadi…rasanya kaya lihat kakak sendiri. Hiks. Esokannya pun saya gak cerita meskipun dia tanya kok semalem gak keliatan sampe malem 😦

Begitulah pertemanan saya dengan Mbak Lia, hangat dan menyenangkan sampe suatu saat saya kecelakaan dan mengharuskan bedrest selama 6 bulan. Seluruh penghuni kos kelas ekonomi diminta pindah karena kos akan dirubuhkan untuk dibangun hotel. Saya pindah ke bangunan kos bagian depan yang belum dijual (kos AC) sementara Mbak Lia pindah ke tempat lain. Praktis hubungan kami terputus begitu saja karena bego nya saya, saya tidak pernah tau dan minta no HP Mbak Lia.

Setelah saya sembuh, saya kembali ke kos saya. Masih menemukan beberapa anak lama yang tinggal. Saya mulai mencari keberadaan Mbak Lia. Trus ada yang ngasih no HP Mbak Lia. Saya telpon dia dan aktif. Dia cerita kalo sekarang dia kontrak dan buka usaha laundry. Saya kemudian janjian dan datang dengan tas penuh cucian kotor. Saya seperti hendak bertemu pacar yang hilang. Nervous! Sampe di depan rumah saya agak kagum, rumah kontrakannya bagus banget. Dia persilahkan saya masuk. Amazed! Bersih dan rapi banget. Dan yang lebih bikin kaget lagi, ada Lio (anaknya) dan seorang bapak – bapak di sana. Saya berfikir positif saja waktu itu, mungkin suaminya. Kemudian bapak – bapak itu pamit pulang. Kita lebih bebas bercerita. Akhirnya dia cerita kalo bapak tadi adalah ‘bapakku’ (begitu dia menyebutnya) dan saya langsung ngeh. Sekarang ternyata dia sudah jadi simpanan bapak tadi, dikasih modal buat usaha dan dikontrakkan sebuah rumah.

And the story goes. Hidupnya lebih baik dan lebih teratur, sudah gak keluar malam lagi. Setelah itu saya loose contact lagi karena saya menikah. Sampai sekarang pun saya tidak pernah bertemu dia lagi. Terakhir sekitar setahun yang lalu saya bertemu salah satu teman kos yang nanti akan jadi cerita juga di sini, bilang kalo Mbak Lia sudah gak kontrak lagi dan sekarang kos jadi satu sama dia. Anaknya sudah TK dan sekarang Mbak Lia kerja ‘malam’ lagi. Gak tau kenapa, saya kok gak pengen nanya no HP nya bahkan nanya alamat kos dia dimana biar bisa ketemu Mbak Lia lagi. Saya rasa saya marah dan kecewa. Tapi apa boleh buat, pilihan tetap di tangan Mbak Lia.

Tapi bagaimanapun, Mbak Lia mengajari banyak hal ke saya yang saya ingat sampai sekarang. Diantaranya cara menata buku, sprei dan mengingatkan saya supaya gak berbagi bedak muka sama orang lain.

Saya masih sangat berharap, Mbak Lia hidup wajar karena dia pantasnya hidup wajar dan terhormat. Semoga Bunda Maria yang sangat dia puja dan idolakan tetap menjadi panutan dalam hati dan jiwanya.

The End

Masakan Mbak Lia

Hmmm, saya ini rentan dipuji. Dipuji dikit tulisannya bagus aja langsung semangat nulis. Heiii kamu….u know who u are! (aku anak mainstream hihihihi…)

Masih seputar cerita di kos saya dulu. Setelah bercerita tentang Fanny di sini sekarang saya mau cerita salah satu temen kos saya sebelum Fanny. Namanya Mbak Lia.

Oh ya, sebelum saya kos di sebelah kamar Fanny di kamar yang ber-AC, saya adalah karyawan baru dengan gaji pas2an dan hanya mampu membayar kamar yang kotor, sempit dan tanpa AC. Saking kotornya saya sampai harus mengecatnya berkali-kali. Tapi di kelas ekonomi (kami menyebut kamar non AC dengan sebutan kelas ekonomi), saya punya banyak teman. Ada yang pramuniaga, kerja di bank swasta ternama, ada yang mahasiswa, preman pun ada. Lagi-lagi, saya adalah anak kos yang pendiam dan manis. Jadi mereka tetap segan sama saya. Tapi semua sangat ramah dan helpful, jadi tak jarang saya sering kongkow sama mereka di depan/di kamar salah satu penghuni kos (sebelah kamar saya) namanya Mbak Lia.

Mbak Lia adalah anak kos baru di kelas ekonomi. Pertama kali kenalan, satu yang terlintas ‘kesukaan bule deh ni’. Tingginya 150cm, badan kecil langsing, rambut mengembang agak merah, dan hitam dekil. Kenapa saya bilang ‘kesukaan bule’ karena gandengan bule di kota saya, wajah dan tampilan gak beda jauh sama Mbak Lia. Waktu kenalan saya agak terpesona dengan dia. Selain ramah, waktu saya nyamperin dia di kamarnya dia sedang menyusun patung Bunda Maria, beberapa salib dan rosario serta lilin. Kemudia saya lihat koleksi bukunya, mulai dari chicken soup hingga Memoir of Geisha. Dia suka baca rupanya. Kemudian hari, saya sudah punya partner untuk membahas secara awam buku-buku yang kami baca. Fun!

Saya masih belum ngeh pekerjaan dia. Meskipun sudah penasaran, tapi saya males aja buat tanya dan nyari info. Saya lebih seneng nongkrong di kamarnya, membahas buku, kehidupan dan menunggu dia masak. Yes, Mbak Lia suka sekali masak dan masakannya enak banget. Dia pasti memanggil saya ketika masakannya matang, kalo dia masak babi, dia pasti bilang ‘kamu bikin indomie aja ya…itu di kulkas ada telor, soalnya aku masak daging babi’. Kalo pas puasa, dia akan bangunkan saya sahur, kadang ikut makan sahur meskipun dia tidak berpuasa.

Akhirnya saya tau pekerjaan Mbak Lia, dia yang cerita. Sama kaya Fanny, hanya saja si Mbak Lia ini marketnya bule. Kalopun dengan orang lokal dia ini agak pemilih. Well, dollars seemed very interesting to her. Kemudiah juga saya tau Mbak Lia punya anak yang masih 3th. Tapi anaknya ini bukan anak bule. Cenderung seperti keturunan Ambon. Saya tanya, siapa bapaknya? Dia bilang, bapaknya sudah mati n gak usah dibahas lagi. Oke…oke…deh!

Jadi, mbak Lia ini menitipkan anaknya dari Senin – Jum’at di seseorang yang dia rahasiakan. Tiap Sabtu pagi – Minggu malam, dia akan habiskan untuk anaknya. Mengajak jalan, masak untuk anaknya, dan bahkan membacakan buku cerita sebelum anaknya tidur. Sungguh ironis. Dan melihat anaknya, saya trenyuh. Sering saya berkhayal, andai saja Mbak Lia bisa bekerja dengan ‘baik’.

‘Uang yang saya dapat dengan cara begitu, karena hanya itu yang mampu saya kasih untuk Lio. Kalo dia sudah besar nanti dan dia marah karena Ibunya seperti ini, saya rela dan saya ikhlas tapi satu hal yang harus dia tau, saya mencintainya sampai mati, saya akan membelanya meskipun nyawa taruhannya’

Ya begitulah memang seorang Ibu. Saya sudah merasakannya sekarang.

to be continued……

Gak bisa gerak

Kenapa judulnya begitu sih?

Gak ngeluh juga kok itu. Jadi semacam kaya penggambaran diri sendiri saat ini. Terlalu ketat dan terlalu banyak bawaan sampe gak bisa gerak kaya gini. I am supposed to be at my very own home, holding my kid and breastfeeding her but…..why am I still here??

Sempet curhat dikit sama nyokap tadi, mau nangis, udah diujung mata tapi alasan apa lagi ya sekarang?? Biasanya sih bilang lagi baca cerita sedih tapi masak terus2an?? Kapan dong kerjanya?? Nah lo! Mom said ‘yang paling tau obat buat sakit hati kamu ya kamu sendiri, Ibu cuma bisa bantu doa dan mendengarkan keluh kesah kamu. Jangan mempertahankan sesuatu hanya semata-mata karena materi tapi pertahankanlah sesuatu yang memang sehat untuk rohanimu’. Ya wess makjleb berkali-kali dah ahhhhhh…jleeeeeeeebbbbbbb. Arrrghhhhhh

Lalu dipikir-pikir lagi…iya juga ya, lebih baik sekarang selesin semua yang sudah dimulai. Benah-benah diri dan hati, kemudian…..everyone says…semua terserah kamu. Have I told u that I hate word ‘TERSERAH’???? Kaya dilepas di Paris tanpa peta dan uang saku. Ya memang begitu kok yang tak rasain. Meskipun dikasih ide dan kemudian dibantah, at least lebih ada perjuangannya daripada kata ‘teserah’. Eh tapi mungkin orang jadi pake kata ‘terserah’ juga karena kelakuanku yang suka ngeyel ya. *tampardirisendiri*

Ini masih belum yang paling random. Keluarin dikit-dikit aja lah, biar blognya rame. Heyy….disini lagi coba menapakkan kaki menuju sebutan ‘blogger’. Haisaaaahhhhh, ngayal! Nulis aja tarsok tarsok.

Love n Peace

*tuabangetslogannya*

Fanny yang Funny

Back at 2007, ketika saya masih bujang, lajang dan indekos. Kos saya ini adalah kos ‘bebas’ yang artinya kami para penghuni kos bebas pulang jam berapa aja, bebas ngapain aja, bebas memasukkan siapa saja dan tentu saja bebas bergender apa saja. Kos-kos an saya jauh dari kata bersih, teratur maupun mewah. Ber-AC tapi gak tau tuh AC tahun berapa yang jelas sih masih tetap dingin. Meskipun umurnya mungkin seumuran saya. Tapi, kos-kos an saya hanya 20 langkah berjalan ke arah pusat kota. Ini sebenernya satu-satunya poin plus nya. Karena kebetulan tempat kerja saya juga di pusat kota. Jadi masuk jam 8 biasanya jam 7.50 saya baru keluar kos. Berjalan kaki, lari-lari kecil kadang….sampai kantor not more than 5 minutes. How can I not love this kos-kos an?

Bisa dibayangin dong penghuninya. Yapp, sependek pengetahuan saya, yang tidak pernah membawa pasangan ke kos-kos an cuma saya dan satu orang lagi teman kos saya laki-laki itupun karena gak jelas juga orientasinya. Yang punya istri di kota lain pun pernah beberapa kali saya lihat kedapatan memasukkan seseorang yang bukan isrtinya ke kamarnya. Ohh ada satu lagi, Fanny namanya. Itupun karena dia……and the stroy goes……

Fanny, umur 16 tahun, asli Solo merantau ke Semarang. Ya…dia merantau untuk menghidupi dirinya bukan karena dia di sekolahkan oleh orang tuanya ke Semarang. Anaknya pendek, gempal, kulitnya putih mulus, wajah oriental khas Menado (mamanya orang Menado), manis dan ber ukuran dada agak berlebihan dari anak seusianya. Belakangan saya tau, dia ikut treatment memperbesar payudara di sebuah klinik kecantikan ternama. Lalu apa kerjanya? Apa sih yang bisa dikerjakan anak umur 16 tahun selain ‘jual diri’? Itu adalah jawaban yang akan dia kasih ke orang-orang yang bertanya tentang pekerjaannya.

Kamarnya bersebelahan dengan kamar saya. Anaknya berisik, sering bernyanyi. Suaranya bagus dan dia suka sekali lagu RnB. Semua orang di kos pernah dia maki-maki atau at least pernah bermasalah sama dia kecuali saya. Dia bilang sama penjaga kos saya, dia sungkan sama saya karena saya gak pernah komplain apapun kelakuan dia meskipun sangat mengganggu ketertiban dan kenyamanan kos. Kalo udah ngamuk, Fanny akan melontarkan semua nama hewan dengan teriak-teriak dan yang paling parah, dia pernah memanggil buser yang sedang lewat hanya karena dia diganggu salah satu temen anak kos yang iseng. Tapi setelah marah-marah dan ngamuk biasanya dia akan menangis. Masih dengan suara kenceng. Dia akan meratapi nasibnya, mengutuk dirinya sendiri dan memaki-maki orang tuanya yang gak perhatian sama dia. Setelah itu, dia akan tertidur sampe lama sekali, sampe penjaga kos (bestfriend nya) akan menggedor pintunya dan membangunkannya karena khawatir. Sebagai orang yang hanya berbatasan dinding dengan Fanny, saya udah gak punya hasrat untuk marah atau komplain karena terganggu kelakuannya dan berisiknya. Yang ada, hati saya ikut miris dan kasihan banget liat kondisi Fanny.

Hari Minggu ketika saya gak ada acara apa-apa dan hanya stay di kos, biasanya kalo Fanny sudah bangun, kita akan di depan pintu masing-masing sambil makan soto kemudian dia akan menjawab. apa saja yang saya tanyain ke dia. Dari percakapan di hari Minggu itulah saya tau kenapa dia sampai menjadi  seperti sekarang ini. Dia cerita, dia ingin seperti kakaknya. Kakaknya udah jadi perempuan panggilan sejak umur 14 tahun (kelas 1 SMP) dan sekarang di umurnya yang baru 21 tahun dia sudah diperistri cukong dari Hongkong, dibelikan apartment, mobil dan diberikan uang bulanan sebesar 17 jt. Fanny memperlihatkan ke saya foto kakaknya. Sekilas saya seperti melihat foto artis tapi gak tau siapa. Beda 180 derajat dari Fanny. Kakaknya tinggi, langsing, kulit sawo matang dan matanya cantik. Wajarlah kalo dia jadi kembang (kata Fanny) di tempat dia mangkal. Lucu melihat ekspresi Fanny yang berapi-api dan bersemangat sekali ingin meniru jejak kakaknya. Meskipun dalam hati saya, tetap saja miris.

Lulus SD, Fanny bersekolah di SMP di kotanya. ‘Banyak lonthe mbak di SMPku’ begitu katanya. Sampai pada suatu hari, ada mami-mami yang menawari Fanny untuk menjual diri. Fanny yang bergaya hidup bak anak muda gedongan tentu saja tergiur tawaran ini. Oh ya, Fanny kehilangan keperawanannya saat dia mulai berpacaran waktu awal-awal masuk SMP. Akhirnya Fanny mulai menikmati pekerjaan ini dan tentu saja dengan dukungan kakaknya. Mamanya? Saya belum cerita ya, mamanya adalah seorang germo dan papanya sudah meninggalkan mamanya sejak melahirkan adik bungsunya. ‘Keluargaku itu keluarga lonthe mba….hahahahahha….’ tanpa beban.

‘Lonthe itu kaya henpon mbak, makin sering dipakai makin murah, dulu waktu awal-awal aku bisa dibayar sekali main 1-2jt sekarang 500rb aja masih dipotong germo, dapetnya 350 tok mba….ngenes…ngenes’

‘Mbak pikir aku gak sakit apa, sakit banget mba di dalam sini (sambil pegang dada) juga di bawah sini mbak…tapi aku bisa kerja apa? Aku pengen kaya yang lain, pengen sekolah, pengen kuliah’ 

‘Aku gak mau di panti pijet mba tapi kalo ga disitu aku gak laku. Semua orang di panti jahat mba, pengen ngejatuhin bahkan ada yang main dukun. Aku udah pake dukunnya Chris John dari Banyuwangi aja masih kalah mempan sama mereka. Jahat mba…aku gak tahan tapi aku terpaksa’

Biasanya akan panjang dan lama nangisnya. Selalu percakapan kami berakhir seperti itu. Kalo dia sudah menangis dan tidak mau makan lagi sotonya, saya suruh dia mandi. Dan seperti biasa, dia akan tertidur sampe siang/sore.

Tapi banyak juga hal lucu yang dia ceritakan tentang pekerjaannya. Pernah saya menemukan brosur-brosur Singapore Tourism Board di kamarnya. Saya tanya dia apa dia mau ke Singapore? Dia ketawa ngakak sampe menangis. Saya bingung.

‘Jadi to mba, aku disuruh sama ‘mami’ ku baca-baca brosur ini biar ngerti Singapore itu kaya apa dan ada apa aja. Nanti kalo pas lagi nemuin tamu, aku bakalan bilang kalo aku habis dari Singapore habis dari sini (nunjuk ke brosur), sini (tunjuk lagi) hahahaha…..’

Lho…kenapa begitu?? Saya mulai agak absurd dengan jawabannya.

‘Aduh mba…mba….semakin tinggi status sosial kita semakin tinggi bayarannya. Kalo yang make aku tau aku suka keluar negeri, dia berpikir pasti aku lonthe kelas atas. Dan nilai jualku tinggi mba…itu kata mamiku. Aku sering kok bohong ke tamu, aku habis dari Malaysia, Bali, Lombok. Trus aku bawa buku-buku tebel di tasku dan pura-pura tak jatuhin pas aku ambil k*nd*m’

Geli sih tapi takut kalo ikutan tertawa nanti disangka menghina. Karena anak ini susah ditebak. Lalu saya tanya, kalo tamunya tanya isi bukunya apa gimana?

‘Mamiku udah nyeritain isi bukunya sekilas. Kalo dia tanya lebih jauh ya aku bilang aja, baru beli belum sempet baca sampe selese’

O……iya cuma O…….saja yang keluar dari mulut saya.

Itulah Fanny. Sekarang tahun 2012, berarti dia sudah 21 tahun, selama 5 tahun saya gak ketemu sama dia, sejak kos kami dirubuhkan untuk dibangun hotel akhir tahun 2007. Mungkinkan dia sudah mengikuti jejak kakaknya? Saya tiba-tiba kangen Fanny, pengen ngobrol sambil makan soto. Soto 1, sate telur 1, otak-otak 1, tempe 5. Itu pesanan Fanny dan selalu tidak habis sate telurnya karena dia sudah terlanjur menangis sebelum sempat memakannya. Fanny yang lucu.

I Like Being Tall…

Lately, I like to wear my one and only high-heel. Don’t know why but….I like being taller….

my one and only tiny bitty high-heel

In my ages, everything so called ‘vitamin peninggi badan’ or ‘tabib hermasyah bayu, meninggikan badan dengan cara ditarik ditempat’ of course…won’t work on me…..

So I decided to wear high-heel….uh yeaaahhh, until

she's wearing flats!!!

Why…whyyyy??? I’m on my heel n she’s on her flats but still…I can’t no as tall as her…..huhuhuhu….! Then I’m browsing for some heels, wedges especially, till I found this adorable wedges from here. This one…

It seems so comfortable to wear and the heel is suitable for me to be as tall as my ‘in her flats’ bestie (sigh).

And yesterday, I found that my favorite blogger, @wortje , seemed would make my dream came true (hihihi…over self confident). Hopefully this post will make me as tall as my friend above even tough she’s on her flats (cross fingers)

Hopefully….yes hopefully I win that contest so I don’t have to pay my dream wedges with my own money.

And still….I like being…..even taller now…..