Back at 2007, ketika saya masih bujang, lajang dan indekos. Kos saya ini adalah kos ‘bebas’ yang artinya kami para penghuni kos bebas pulang jam berapa aja, bebas ngapain aja, bebas memasukkan siapa saja dan tentu saja bebas bergender apa saja. Kos-kos an saya jauh dari kata bersih, teratur maupun mewah. Ber-AC tapi gak tau tuh AC tahun berapa yang jelas sih masih tetap dingin. Meskipun umurnya mungkin seumuran saya. Tapi, kos-kos an saya hanya 20 langkah berjalan ke arah pusat kota. Ini sebenernya satu-satunya poin plus nya. Karena kebetulan tempat kerja saya juga di pusat kota. Jadi masuk jam 8 biasanya jam 7.50 saya baru keluar kos. Berjalan kaki, lari-lari kecil kadang….sampai kantor not more than 5 minutes. How can I not love this kos-kos an?
Bisa dibayangin dong penghuninya. Yapp, sependek pengetahuan saya, yang tidak pernah membawa pasangan ke kos-kos an cuma saya dan satu orang lagi teman kos saya laki-laki itupun karena gak jelas juga orientasinya. Yang punya istri di kota lain pun pernah beberapa kali saya lihat kedapatan memasukkan seseorang yang bukan isrtinya ke kamarnya. Ohh ada satu lagi, Fanny namanya. Itupun karena dia……and the stroy goes……
Fanny, umur 16 tahun, asli Solo merantau ke Semarang. Ya…dia merantau untuk menghidupi dirinya bukan karena dia di sekolahkan oleh orang tuanya ke Semarang. Anaknya pendek, gempal, kulitnya putih mulus, wajah oriental khas Menado (mamanya orang Menado), manis dan ber ukuran dada agak berlebihan dari anak seusianya. Belakangan saya tau, dia ikut treatment memperbesar payudara di sebuah klinik kecantikan ternama. Lalu apa kerjanya? Apa sih yang bisa dikerjakan anak umur 16 tahun selain ‘jual diri’? Itu adalah jawaban yang akan dia kasih ke orang-orang yang bertanya tentang pekerjaannya.
Kamarnya bersebelahan dengan kamar saya. Anaknya berisik, sering bernyanyi. Suaranya bagus dan dia suka sekali lagu RnB. Semua orang di kos pernah dia maki-maki atau at least pernah bermasalah sama dia kecuali saya. Dia bilang sama penjaga kos saya, dia sungkan sama saya karena saya gak pernah komplain apapun kelakuan dia meskipun sangat mengganggu ketertiban dan kenyamanan kos. Kalo udah ngamuk, Fanny akan melontarkan semua nama hewan dengan teriak-teriak dan yang paling parah, dia pernah memanggil buser yang sedang lewat hanya karena dia diganggu salah satu temen anak kos yang iseng. Tapi setelah marah-marah dan ngamuk biasanya dia akan menangis. Masih dengan suara kenceng. Dia akan meratapi nasibnya, mengutuk dirinya sendiri dan memaki-maki orang tuanya yang gak perhatian sama dia. Setelah itu, dia akan tertidur sampe lama sekali, sampe penjaga kos (bestfriend nya) akan menggedor pintunya dan membangunkannya karena khawatir. Sebagai orang yang hanya berbatasan dinding dengan Fanny, saya udah gak punya hasrat untuk marah atau komplain karena terganggu kelakuannya dan berisiknya. Yang ada, hati saya ikut miris dan kasihan banget liat kondisi Fanny.
Hari Minggu ketika saya gak ada acara apa-apa dan hanya stay di kos, biasanya kalo Fanny sudah bangun, kita akan di depan pintu masing-masing sambil makan soto kemudian dia akan menjawab. apa saja yang saya tanyain ke dia. Dari percakapan di hari Minggu itulah saya tau kenapa dia sampai menjadi seperti sekarang ini. Dia cerita, dia ingin seperti kakaknya. Kakaknya udah jadi perempuan panggilan sejak umur 14 tahun (kelas 1 SMP) dan sekarang di umurnya yang baru 21 tahun dia sudah diperistri cukong dari Hongkong, dibelikan apartment, mobil dan diberikan uang bulanan sebesar 17 jt. Fanny memperlihatkan ke saya foto kakaknya. Sekilas saya seperti melihat foto artis tapi gak tau siapa. Beda 180 derajat dari Fanny. Kakaknya tinggi, langsing, kulit sawo matang dan matanya cantik. Wajarlah kalo dia jadi kembang (kata Fanny) di tempat dia mangkal. Lucu melihat ekspresi Fanny yang berapi-api dan bersemangat sekali ingin meniru jejak kakaknya. Meskipun dalam hati saya, tetap saja miris.
Lulus SD, Fanny bersekolah di SMP di kotanya. ‘Banyak lonthe mbak di SMPku’ begitu katanya. Sampai pada suatu hari, ada mami-mami yang menawari Fanny untuk menjual diri. Fanny yang bergaya hidup bak anak muda gedongan tentu saja tergiur tawaran ini. Oh ya, Fanny kehilangan keperawanannya saat dia mulai berpacaran waktu awal-awal masuk SMP. Akhirnya Fanny mulai menikmati pekerjaan ini dan tentu saja dengan dukungan kakaknya. Mamanya? Saya belum cerita ya, mamanya adalah seorang germo dan papanya sudah meninggalkan mamanya sejak melahirkan adik bungsunya. ‘Keluargaku itu keluarga lonthe mba….hahahahahha….’ tanpa beban.
‘Lonthe itu kaya henpon mbak, makin sering dipakai makin murah, dulu waktu awal-awal aku bisa dibayar sekali main 1-2jt sekarang 500rb aja masih dipotong germo, dapetnya 350 tok mba….ngenes…ngenes’
‘Mbak pikir aku gak sakit apa, sakit banget mba di dalam sini (sambil pegang dada) juga di bawah sini mbak…tapi aku bisa kerja apa? Aku pengen kaya yang lain, pengen sekolah, pengen kuliah’
‘Aku gak mau di panti pijet mba tapi kalo ga disitu aku gak laku. Semua orang di panti jahat mba, pengen ngejatuhin bahkan ada yang main dukun. Aku udah pake dukunnya Chris John dari Banyuwangi aja masih kalah mempan sama mereka. Jahat mba…aku gak tahan tapi aku terpaksa’
Biasanya akan panjang dan lama nangisnya. Selalu percakapan kami berakhir seperti itu. Kalo dia sudah menangis dan tidak mau makan lagi sotonya, saya suruh dia mandi. Dan seperti biasa, dia akan tertidur sampe siang/sore.
Tapi banyak juga hal lucu yang dia ceritakan tentang pekerjaannya. Pernah saya menemukan brosur-brosur Singapore Tourism Board di kamarnya. Saya tanya dia apa dia mau ke Singapore? Dia ketawa ngakak sampe menangis. Saya bingung.
‘Jadi to mba, aku disuruh sama ‘mami’ ku baca-baca brosur ini biar ngerti Singapore itu kaya apa dan ada apa aja. Nanti kalo pas lagi nemuin tamu, aku bakalan bilang kalo aku habis dari Singapore habis dari sini (nunjuk ke brosur), sini (tunjuk lagi) hahahaha…..’
Lho…kenapa begitu?? Saya mulai agak absurd dengan jawabannya.
‘Aduh mba…mba….semakin tinggi status sosial kita semakin tinggi bayarannya. Kalo yang make aku tau aku suka keluar negeri, dia berpikir pasti aku lonthe kelas atas. Dan nilai jualku tinggi mba…itu kata mamiku. Aku sering kok bohong ke tamu, aku habis dari Malaysia, Bali, Lombok. Trus aku bawa buku-buku tebel di tasku dan pura-pura tak jatuhin pas aku ambil k*nd*m’
Geli sih tapi takut kalo ikutan tertawa nanti disangka menghina. Karena anak ini susah ditebak. Lalu saya tanya, kalo tamunya tanya isi bukunya apa gimana?
‘Mamiku udah nyeritain isi bukunya sekilas. Kalo dia tanya lebih jauh ya aku bilang aja, baru beli belum sempet baca sampe selese’
O……iya cuma O…….saja yang keluar dari mulut saya.
Itulah Fanny. Sekarang tahun 2012, berarti dia sudah 21 tahun, selama 5 tahun saya gak ketemu sama dia, sejak kos kami dirubuhkan untuk dibangun hotel akhir tahun 2007. Mungkinkan dia sudah mengikuti jejak kakaknya? Saya tiba-tiba kangen Fanny, pengen ngobrol sambil makan soto. Soto 1, sate telur 1, otak-otak 1, tempe 5. Itu pesanan Fanny dan selalu tidak habis sate telurnya karena dia sudah terlanjur menangis sebelum sempat memakannya. Fanny yang lucu.





























